CIREBON – Setiap 24 September, Indonesia memperingati Hari Tani Nasional. Momentum ini menjadi kesempatan untuk kembali melihat pos...
CIREBON – Setiap 24 September, Indonesia memperingati Hari Tani Nasional. Momentum ini menjadi kesempatan untuk kembali melihat posisi petani dan sektor pertanian dalam kehidupan masyarakat, termasuk di wilayah perkotaan seperti Kota Cirebon.
Bagi Kota Cirebon, berbicara tentang pertanian tidak selalu berarti hamparan sawah yang luas. Tantangannya juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat perkotaan memahami pangan, lingkungan, pengelolaan sumber daya, serta peluang usaha yang berkaitan dengan sektor pertanian.
Dalam konteks tersebut, sosok Ir. Risa Maharani Alissa kini mendapat ruang kerja yang cukup luas. Dalam struktur kepengurusan DPD PKS Kota Cirebon periode 2025–2030, Risa dipercaya sebagai Ketua Bidang Petani, Peternak, Nelayan, dan Ketenagakerjaan.
Bidang tersebut tidak hanya berbicara tentang petani. Di dalamnya terdapat empat kelompok yang saling berkaitan: petani, peternak, nelayan, dan pekerja. Karena itu, isu pangan dan penghidupan masyarakat menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bidang tersebut.
Dari sampah organik ke isu pertanian
Salah satu jejak yang menarik dari Risa adalah keterlibatannya dalam isu eco-enzyme di Kota Cirebon.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Strategi Desain dan Inovasi Sosial pada 2025 mencatat Risa sebagai narasumber dari Komunitas Eco-Enzyme Cirebon sekaligus penggiat eco-enzyme di Kota Cirebon. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa pembuatan eco-enzyme memanfaatkan bahan organik dan memiliki berbagai kemungkinan pemanfaatan, termasuk dalam bidang pertanian, lingkungan hidup, dan kebutuhan rumah tangga.
Jejak tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan amanah barunya di Bidang Petani, Peternak, Nelayan, dan Ketenagakerjaan.
Ada satu benang merah yang bisa dilihat: bagaimana sumber daya yang ada di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai guna.
Dalam konteks pertanian perkotaan, cara pandang seperti ini relevan dengan berkembangnya berbagai model pertanian yang tidak selalu membutuhkan lahan luas.
Risa Maharani bersama tim duta tani kota Cirebon saat ini aktif mengelola lahan pertanian yang tergabung dalam komunitas “Kebun Pokdakan Mina Agro Lestari”. Masyarakat yang mau belajar pertanian bisa belajar di sini yang beralamat di jalan Perjuangan Kota Cirebon.
Kota Cirebon memiliki karakter berbeda dengan wilayah yang secara geografis didominasi kawasan pertanian. Karena itu, pembicaraan mengenai ketahanan pangan di kota dapat mengambil bentuk yang berbeda pula.
Salah satunya adalah pertanian perkotaan.
Bagi Risa, amanah sebagai Ketua Bidang Petani, Peternak, Nelayan, dan Ketenagakerjaan membuka ruang untuk mempertemukan berbagai isu tersebut: pertanian, pangan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga pekerjaan.
Dan bagi Ir. Risa Maharani Alissa, Hari Tani Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali ruang pengabdian barunya—sekaligus melihat bagaimana pengalaman yang telah dijalani sebelumnya dapat menjadi bekal dalam menjalankan amanah tersebut.
Selamat Hari Tani Nasional 2026.
Petani adalah bagian penting dari perjalanan pangan bangsa. Dan di tengah perubahan zaman, pertanian membutuhkan inovasi, regenerasi, serta keterlibatan banyak pihak.
COMMENTS